Sabtu, 10 September 2011

Dialog Bersama Ustad Atip Latifulhayat; Aktivis Persis dan Dosen FH Unpad


Sabtu (10/09), Hima dan Himi Persis PK Unpad mengagendakan untuk berkunjung ke rumah Ustad Atip yang memiliki nama lengkap H. Atip Latifulhayat, SH, LLM, Ph.D, beliau mendapatkan titel Ph. D dan LL.M di faculty of Law, Monash University, Australia. Ustad Atip merupakan aktivis Persis yang baru saja menjadi calon Ketua PP Persis menyaingi Prof. Dr. KH Maman Abdurrahman, MA pada Muktamar yang lalu, sementara sebelumnya beliau menjabat sebagai Ketua Bidang Jamiyyah PP Persis. Dalam muktamar tersebut beliau juga berperan sebagai ketua panitia Muktamar. Kini ia sibuk sebagai dosen di Fakultas Hukum Unpad juga tercatat sebagai anggota Int’l Association of IT Lawyer dan Int’l Institute of Space Law. Beliau pernah memberikan materi di acara Kabah 2010 termasuk menyediakan tempat untuk acara tersebut sehingga beliau bisa disebut sebagai salah satu orang yang sangat mendukung atas perkembangan Hima dan Himi Persis PK Unpad.


Pertemuan siang itu  diawali dengan perkenalan oleh Ikbal Dzilal dan Yaufik dari Sastra Arab 2009, Utsman yang juga diperkenalkan sebagai Ketua Hima dari Ilmu Sejarah 2010, Risna dari Sastra Arab 2009, Shela dari Pertanian 2010, Achi dari Biologi 2009, Novi sebagai Ketua Himi yang merupakan mahasiswa Ustad Atip dari Hukum 2010, dan Sarah dari Keperawatan 2010. Melihat keberagaman asal fakultas masing-masing, Ustad Atip berharap kajian yang berjalan di Komisariat Unpad dapat beragam pula. Hal tersebut dimulai dengan komentarnya terhadap SDM Sastra Arab yang dirasa kurang. Beliau menyayangkan mahasiswa Indonesia yang tidak bisa memiliki jiwa kompetitif namun mengandalkan koneksi, hal tersebut menjadikan skripsi yang mereka buat jauh dari standar kualitas yang bagus karena hanya memikirkan ‘asal lulus’ saja.

Ustad Atip yang merupakan anggota tim Unpad menuju WCU (World Class University) juga membahas mengenai keadaan kampus yang serba ‘tidak jelas’. Jika dibandingkan dengan kampus-kampus internasional lainnya, Unpad sangat jauh tertinggal. Dilihat dari hal-hal kecil, seperti pengadaan sarana dan prasarana, kerapian kampus, bahkan sikap mahasiswa yang berebutan menaiki angkutan kampus sudah tidak relevan lagi dengan konsep WCU yang sedang direncanakan.

Hal diatas bukan hanya terjadi dalam satu instansi, karena memang dari atasnya (pemerintahan Indonesia) sangat tidak jelas. Ustad Atip mengambil contoh kepada sistem pertanian, pertanian di Indonesia memang tidak jelas konsepnya karena negara agraris hanya ada dalam buku saja yang teoritis, sementara dalam pelaksanaannya banyak ketidakjelasan, sehingga akhirnya kekayaan pertanian di Indonesia tidak bisa diberdayakan. Begitu pula dengan sistem kesehatan, birokrasi asuransi kesehatan (askes) yang sangat rumit menjadikan manajemen kesehatan di Indonesia menjadi buruk, contohnya terjadi di Rumah Sakit Umum dr. Slamet di Garut yang mengalami kebangkrutan karena hutang anggaran Jamkesda (Jaminan Kesehatan Daerah). Sementara di luar negeri, para pasien dilayani dalam masalah asuransi, ketika mereka sakit maka mereka bisa langsung membayarnya dan meminta bill kepada dokter, bill tersebut dapat dicairkan menjadi uang pada pihak asuransi baik melalui alat yang terpasang di setiap kota maupun lewat pos.

Selain membahas mengenai hal-hal yang berhubungan dengan disiplin ilmu masing-masing, beliau juga membahas mengenai keorganisasian termasuk menanyakan kegiatan apa saja yang tengah dilakukan oleh Hima dan Himi Persis baik yang di komisariat, daerah, wilayah, maupun pusat.
Pembicaraan yang belum terpuaskan itu terpotong karena beliau harus mendatangi istrinya yang baru saja selesai operasi. Beliau berharap Hima dan Himi Persis Komisariat Unpad dapat kembali mengunjungi beliau dan melanjutkan dialog yang lebih menarik. (red: sarah)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Admin -Humas dan Informasi-